Sekali lagi saya menggunakan angka “3″ dalam judul tulisan saya. Mengapa tiga? Karena lebih menarik perhatian dan orang jadi punya pilihan untuk membaca secara sekilas (lah wong cuma 3 pokok, baca sebentar ga bakal makan banyak waktu :) ). Tulisan saya sebelumnya adalah mengenai kenaikan harga, sekarang mengenai musibah-musibah yang terjadi di sekitar saya.
Oke, ada 3 musibah (sebenarnya 4 sih, tapi biar ‘catchy’ aja dijadiin tiga, lagian satu musibah tergolong minor). Yang pertama adalah musibah kehilangan barang mewah. “Wuih, motornya hilang, yah, mas?”. Tidak. Untungnya motor Supra X 110cc saya masih utuh. Peristiwa ini adalah mimpi buruk semua gamers di dunia. Apalagi kalo bukan kehilangan console game (alias PS… PS2 lagi!… dan terlebih lagi itu punya orang!!!). Waduh! Hilangnya di kos-kosan saya, tepat ketika saya diundang untuk menghadiri pertandingan Futsal alumni pesantren di Magelang.
“Loh, berarti musibah ini menimpa, mas, dong. Harusnya judulnya 3 Musibah yang terjadi ‘pada’ saya”. Hus, namanya juga maksa-maksain jadi tiga. Lagian, itu kan PS2 temen saya, bukan punya saya. Jadi temen saya dong yang kena musibah (ngeles mode: activated).
Lanjut ke musibah kedua. Musibah ini lebih “gahar”, bahkan link nya pun ada! Ini dia:
http://www.detiknews.com/read/2008/07/11/080652/970273/10/bocah-5-tahun-tewas-terpanggang
Ada serentetan rumah pemulung yang terbakar, meninggalkan bocah 5 tahun tewas terpanggang. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kejadiannya di belakang kos-kosan saya. Persis! Alamakjan! Semua penghuni kos lari bertaburan membawa barang2 berharga. Semua penghuni kos… kecuali saya. :P Saya masih di kantor, ngurusin kerjaan sampingan yang ga bisa dikesampingkan. Karena sibuk begadang, capek, dan ketiduran di musholla kantor. HP ada di meja. Begitu bangun, 5 kali panggilan tak terjawab dari teman kos, dan satu SMS: “Dik, cepat pulang, rumah deket kos kita kebakaran!”.
Phuaahh!!! Tanpa cuci muka, ambil kunci motor, ngebut sampai jalan raya depan kosan. Euh… jalannya diblokir euy. Ga bisa lewat. Terpaksa deh parkir sembarangan, untung ada banyak polisi yg jagain. Terlihat mobil-mobil raksasa bercat merah berbaris tak beraturan. 1.. 2.. 3… 15 menurut detik.com. Teman saya sudah disamping motornya mengangkat tas berisikan baju. “Gw cuman nyelametin ini aja”. Wis, yasud, saya masuk ke kamar saya sebentar dan mengangkut baju2 seadanya. Ini juga kali pertama seumur hidup saya menyaksikan kebakaran. Wah, mana lagi kalo nggak di Jakarta?
Dan musibah terakhir, masih di sekitar kos-kosan saya (bener-bener keramat nih). Pemilik kos nya meninggal dunia tak selang berapa lama setelah kebakaran tersebut. Kali ini ga ada pemberitahuan seperti sebelumnya, teman saya aja baru tau pada saat pulang kantor. Karangan bunga memenuhi parkiran kos dan mobil-mobil mewah berseliweran mencari tempat parkir. Kesan pertama, “wah ada orang gedongan punya acara”. Bukannya ucapan selamat, malah ucapan turut berbelasungkawa yang tertera di setiap karangan bunga. Uniknya, walaupun yang meninggal itu pemilik kosnya, selidik punya selidik, tak satupun penghuni kos yang pernah menemuinya. Manajemen kos diatur penjaga kos yang notabene suruhan istri nya. Istrinya saja tidak pernah terlihat merawat/memperhatikan kos-kosan tersebut.
Setelah nulis kaya gini, saya baru tahu seperti apa potret kehidupan sekuler yang apatis dan non dinamis. Asas hidup “Gw ga ganggu lo jadi lo jangan ganggu gw” dan “Bukan urusan gw”. Yah, kehidupan perkotaan. Pantas saja banyak yang lari dari kota untuk memulai sesuatu yang baru dengan masyarakat dan penghunian yang baru. Well, berhati-hatilah sebelum membeli :)
Cuap-cuap terbaru