Sedikit curhat dari seorang pengisi kuesioner dari sebuah survey. Seperti survey-survey pada umumnya, pemberi survey selalu mencari orang-orang yang tidak terlalu sibuk, pandangan menerawang, dan tidak memiliki niat untuk membeli sesuatu dalam waktu dekat, yang secara kebetulan lagi menunggu penayangan Iron Man di sebuah mal terkenal di Jakarta, yang saat itu secara kebetulan lagi berkerumun di depan sebuah factory outlet terkenal, yang kebetulan sedang menggelar diskon kecil-kecilan (walaupun sudah di-diskon tetap tak terjangkau anggaran belanja bulanan).
Waktu menunjukkan pukul 14:00, masih ada kurang dari 3 jam untuk penayangan film Iron Man selanjutnya (bagi yang tidak tahu Iron Man, silahkan meng-Google “Iron Man Movie”). Saya bersama tiga orang teman yang sedang melihat-lihat sederetan baju, kaos, dan hood berdiskon (meskipun yang dilihat hanya label harganya saja). Dan saya sebagai seseorang yang “terlihat” sedang menerawang di depan outlet berusaha untuk menghabiskan waktu dengan membaca edisi terbaru dari BabyBoss garapan Godot dkk.
Sekonyong-konyong seorang wanita separuh baya (1 baya = 80 tahun, ha..ha..ha.. :) ) mendatangi saya dan mengajukan tawaran untuk mengisi survey. Mereka mengadakan sebuah survey beberapa jenis snack dalam kemasan yang memang cukup terkenal di Indonesia. Cukup banyak, kurang lebih ada 30 jenis. Tentunya diambil 3 merek terfavorit (mau ngambil semua? Bisa gempor saya… ). Mengingat waktu tayang Iron Man masih lumayan lama (tinggal 1 jam lagi), why not?
Berikut cuplikan pertanyaan antara saya (DW) dan penanya (P):
P: “Diantara ini suka yang mana, mas? Pilih Tiga”
DW: “Oke… saya pilih merek A, B, dan C.” (sambil menunjuk ke tiga jenis snack, dimana A adalah pilihan utama)
P: “Oke, berarti A, B dan C yah. Paling suka yang mana?”
DW: “Yang A!”
P: “Waduh, kita ga ngambil survey yang A, mas… Yang B aja yah!”
DW: “Loh? Saya paling suka yang A!”
P: “Iya, tapi yang minta disurvey adalah merek yang B”
DW: “Haiyah! Kok bisa?”
Haduh, penipuan masyarakat, nih! :) Kalau pengen bikin studi komparasi ternyata ada maen duit juga. Weleh weleh… bagaimana para entrepreneur itu bisa dapat Brand Award yah? Jangan-jangan prosedurnya sama. Haduh… payah juga.
Ketiga teman saya (FW) juga terseret untuk mengisi kuesioner tersebut, dan kasus mereka lebih parah:
P: “Punya kulkas nggak di rumah?”
FW: “Punya”
P: “Mobil?”
FW: “Punya”
P: “Wah, tapi data buat mobil sudah banyak terkumpul. Pilih nggak punya mobil aja yah, mas!”
FW: “?????”
P: “Yang punya AC juga udah banyak, mas nggak punya AC aja, yah!”
FW: “??!!”
Saya sempat sedikit bercakap dengan salah satu penanya. Mereka (instansi) adalah outsource dari sebuah produsen untuk mendapatkan data pasar yang akan digunakan dalam merancang produk terbaru. Mulai dari bentuk, rasa, dan kemasan, semuanya ditanyakan. Hmm… berhubung saya suka coklat: “sangat puas” aja deh… nyam
Dan kami pun membawa 4 buah jam beker kecil tanpa baterai sebagai suvenir. :)

Walah…. kuesioner gitu ternyata ga pure juga…. sumpe kaget baca postingan ente, hahahaha…. Lha wong ga sesuai sama fakta kok malah dimaenin…. Piye tho kuwi…
1. harusnya begitu orangnya suka ke produk A, pertanyaannya udah gak isa lanjut lagi. survey dilakukan oleh produk B buat ngebandingin antara a, b dan c mah biasa biasa ajah. gak nipu kok.
sama kayak, orang toshiba mau riset pasar antara produk sony, aiwa, jvc, LG, samsung hehehe
2. yg parah yg mobil dan kulkas itu. jelas jelas nipu kuesionernya. kalo perisetnya handal, biasanya ada spvnya yang melakukan random checking dgn cara menelepon lagi ke responden. gak semua sih, random ajah, tapi surveyor yang nakal, kalo ketahuan, bakalan blacklist.
Iya, bang. Tapi masa kita udah paling suka dengan A, eh malah disuruh ngisi kuesioner yang B? :D
Ini pemaksaan kehendak, namanya. :P
Sama seperti orang Toshiba pengen riset antara sony, aiwa, jvc, LG, dan Samsung tapi aku milih Polytron :D
Kena Lu sekarang ya. Sip dah, gua masukin blogroll Alumni TN